Pages

JENIUS SMAN 3 Makassar -bukan hanya saya-

Kamis, 30 Juni 2011

melanjutkan tulisan sebelumnya saya sudah bergabung di Jenius 03, bersama dengan teman-teman lain yang dengan motivasi masing-masing bergabung dalam tim redaksi.

Saat itu di SMAN 3 Makassar (2002) saya di kelas 1.1 atau X.A, dengan kurikulum percobaan bernama Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK). Kurikulum ini tidak sebagus kedengarannya. Karena teori itu akan selalu lebih bagus dengan segala idealismenya tanpa melihat segala sisi dalam aplikasi di lapangan. Hal yang baru ini menjadikan kami pada saat itu sebagai percobaan pula, hampir semua guru menjelaskan apa itu KBK. Bahwa metode mengajar adalah dengan andragogi dan mereka sebagai fasilitator hanya memandu kami menemukan ilmu.


Ilmu bukan lagi sesuatu yang harus dijelaskan panjang lebar oleh seorang guru dan disimak oleh semua murid. Ilmu harus kami cari, kami diskusikan, lalu kami presentasikan dibimbing oleh guru kami. Guru kami hanya memberikan secara garis besar pokok-pokok materi selama 1 semester pertama, dan tugas kamilah yang meng-explore materi tersebut sehingga terjadi interaksi dalam kelas. Tidak semua guru memahami dan menerapkan, karena masih percobaan, jadi kemungkinan gagal atau berhasil masih jadi pertanyaan. Atau yang jadi pertanyaan saat itu adalah seperti apa contoh konkrit keberhasilan.
eitss, sudah cukup, kita kembali saja membahas Jenius 03, biarkan tentang kurikulum saat itu dibahas di tulisan yang lain.


Tentang Jenius 03, yang baru kutahu singkatannya setelah membaca salah satu buletin begitu rapat pertama yang kuikuti. 


-Jendela Informasi Untuk Smaga-


Yah namanya memang jendela, tempat melihat sesuatu yg ada di luar sana, sebagai sarana yang bisa memberitahukan atau menggambarkan apa yang terjadi dari sebuah jendela. Dari jendela kita hanya bisa melihat dan mengamati, kita tidak bisa terlibat di dalamnya. Kita tidak dapat masuk untuk menyesuaikan berita dengan apa yang kita inginkan. Layaknya media yang ditujukan untuk pembaca dari kalangan terbatas, dalam hal ini anak remaja smaga, Jenius memang mengakomodasi kebutuhan bacaan yang relatif sesuai. Saya saat itu senang mendapatkan banyak kawan baru di SMA. Di kelas X.A yang diketuai oleh Muh. Amri Idris a.k.a. bobo, yang nanti akan kuceritakan kenapa dia dipanggil demikian. Saya senang bersosialisasi dan ngobrol sana sini menceritakan apa yang pernah saya dengar ataupun alami sendiri.


Rapat pertama yang saya ikuti membuat saya cukup terkejut, saya tidak menyangka saat itu kalau ternyata begitu banyak yang berminat masuk ke Jenius 03. Saya kurang yakin saat itu soalnya, saat Jenius mempromosikan dirinya, tampak kurang banyak yang berminat, apalagi mungkin banyak juga yang berpikiran sama denganku yaitu ini hanyalah organisasi orang-orang smart yangmenjadikannya kedok untuk menguasai dunia. well, keterkejutanku tidak sampai di situ, melainkan ternyata sebagian besar dari para pendaftar adalah teman-teman sekelasku. Rachmat Karim alias ase' atau hagemaru gaya klasik, seorang teman yang satu SMP denganku dan kini satu kelas serta dia juga ikut Jenius 03. Saya tidak yakin dengan dia, menurutku paling rachmat hanya sekedar mau kumpul dan menghabiskan waktu tanpa ada sumbangsih yang diberikan. Perkiraanku saat itu sangat salah, karena rachmat yang masuk di bagian karikatur adalah penyumbang gambar terbanyak selama kami di Jenius.


Dalam setiap terbitan, pasti ada gambar hasil goresan pensilnya. Karikaturnya bergaya khas, membuat orang langsung tahu bahwa itu adalah gambarnya. Motivasi rachmat adalah menyalurkan hobi menggambarnya. Salutku untuknya (sejak tamat SMA sampai dengan saat ini, saya tidak pernah lagi mendengar kabar tentangnya). Lalu ketua kelasku Amri ternyata juga  ikut, lalu ada ulla, dede', maya, maya (kododot), acca, dan banyak lagi teman kelasku yang ikut. Semua berkumpul di salah satu ruang kelas setelah jam sekolah. Kami sekali lagi diperkenalkan dengan Jenius 03 beserta tim redaksi saat itu. Mayoritas mereka adalah perempuan. Saat itu juga, motivasi untuk bergabung di Jenius semakin meninggi, karena saya merasa nyaman di sana, nyaman ngobrol, dan mencari isu-isu di sekolah.


Sebagai organisasi extra, Jenius 03 pun dibina oleh salah seorang guru kami. Adalah Mr. Azwan Ibrahim yang menjadi  pembina kami saat itu, guru bahasa Inggris dengan kumis tebalnya dan tatapannya yang tajam. Saya senang dengan beliau dan saya senang mata pelajaran beliau. Tapi saya lebih senang dengan keberadaan beliau di Jenius 03. Beliau sangat mengerti keadaan anak-anak binaannya serta berusaha untuk selalu meluangkan waktunya bersama kami. Bukan hanya saya yang merasakan, saya yakin teman-teman lain di Jenius 03 saat itu pun merasa demikian.


ternyata
Bukan hanya saya yang tertarik
Bukan hanya saya yang ingin membuktikan sesuatu
Bukan hanya saya yang gemar bersosialisasi
Bukan hanya saya yang mau belajar menulis


            Saya hanya mengikuti jalur cerita yang telah dituliskanNya
            Saya hanya berusaha membentuk karakter diri
            Saya hanya ingin menjadi bagian dari Jenius
            Saya hanya ingin menjadi jendela


Bukan hanya saya yang terkejut
Bukan hanya saya yang tertawa
Bukan hanya saya yang terpacu
Bukan hanya saya yang terpanggil


  Bukan hanya yang ingin jadi bagian dari jendela
 Bukan hanya saya, namun mereka juga



Related Post | Artikel Terkait



Get this widget [ Here ]

0 respon:

Poskan Komentar

 
 
 

Sam vocabular